Sabtu, 16 November 2013

TUGAS 7. Kepribadian, Nilai dan Gaya Hidup

KEPRIBADIAN

 

Istilah keperibadian (personality) memiliki banyak arti. Di dalam perilaku kosumen, keperibadian didefinisikan sebagai respons yang konsisten terhadap stimulus lingkungan. Keadaan organisasi di dalam diri individu, yang diacu sebagai keperibadian, mengadakan persiapan untuk pengalaman dan perilaku yang berhubungan secara rapih dan koheren. Keperibadian juga menyediakan pola khusus organisasi yang membuat individu unik dan berbeda dengan semua individu yang lain. Konsistensi respons berasal dari pengertian bahwa keperibadian didasarkan pada karakteristik psikologis sebelah dalam yang agak langgeng.
Tiga teori atau ancangan utama terhadap studi keperibadian digunakan di dalam penelitian konsumen : psikoanalisis, sosial-psikologis, dan faktor ciri (trait-factor). Keperibadian kadang dihubungkan dengan konsep diri atau diri ideal yang diinginkan oleh individu, termasuk teori hierarkhi Maslow di mana orang berusaha mencapai potensi aktualisasi diri mereka yang sepenuhnya.

TEORI PSIKOANALISIS
 Teori psikoanalisis mengemukakan bahwa system keperibadian manusia terdiri atas id, ego, dan superego. Id adalah sumber energy psikik dan mencari pemuasan seketika bagi kebutuhan biologis dan naluriah. Superego menggambarkan norma masyarakat atau pribadi dan berfungsi sebagai kendala etis pada perilaku. Ego menengahi tuntutan hedonistic dari id dan larangan moral dari superego. Interaksi yang dinamis dari elemen-elemen ini menghasilkan motivasi bawah sadar yang diwujudkan di dalam perilaku manusia yang dapat diamati.
Teori psikoanalisis berfungsi sebagai basis konseptual bagi gerakan penelitian motivasi, tetapi yang juga merupakan pendahulu dari studi gaya hidup. Menurut filosofi dari para peneliti motivasi seperti Dr. Ernest Dichter, perilaku konsumen sering merupakan hasil dari motif konsumen bawah sadar, yang dapat ditentukan melalui metode penilaian tak langsung yang diuraikan seperti teknik proyektif dan teknik psikologi terkait.

TEORI SOSIO-PSIKOLOGIS
Teori sosio-psikologis berbeda dengan teori psikoanalisis dalam dua hal penting. Pertama, variabel sosiallah, bukan naluri biologis, yang dipertimbangkan sebagai determinan yang paling penting dalam pembentukan keperibadian. Kedua, motivasi perilaku diarahkan untuk memenuhi kebutuhan itu.
Contoh yang representative dari teori keperibadian sosio-psikologis adalah paradigma Horney. Model ini mengemukakan bahwa perilaku manusia diakibatkan oleh tiga orientasi antarpribadi yang utama: patuh, agresif, dan tidak memihak. Teori Horney digunakan di dalam penelitian pemasaran dalam bentuk yang disebut skala CAD, yang dikembangkan oleh J. B. Cohen dan terdiri dari skala 35-butir. Skala ini diterapkan di dalam situasi di mana keinginannya adalah untuk menghubungkan pilihan konsumen yang spesifik dengan keperibadiaan.

TEORI FAKTOR-CIRI
Teori faktor-ciri (trait-factor theory) adalah ancangan kuantitatif terhadap studi keperibadian. Teori ini mendalilkan bahwa keperibadian individu terdiri dari atribut predisposisi yang pasti disebut ciri (trait). Ciri didefinisikan secara lebih spesifik sebagai cara apa saja yang dapat dibedakan dan relatif abadi di mana individu berbeda satu sama lain. Ciri secara alternatif dapat dianggap sebagai variabel perbedaan individu.
Tiga asumsi menggambarkan teori faktor-ciri tersebut. Ada asumsi bahwa ciri adalah lazim bagi banyak individu dan bervariasi dalam jumlah absolute di antara individu. Ada asumsi lebih jauh bahwa ciri ini relatif stabil dan menimbulkan efek yang agak universal pada perilaku lepas dari situasi lingkungannya. Dari asumsi ini ada pendapat bahwa pelaksanaan fungsi yang konsisten dari variabel keperibadian bersifat meramalkan variasi luas perilaku. Asumsi akhir menegaskan bahwa ciri dapat disimpulkan dari pengukuran indicator perilaku.
Teori faktor-ciri merupakan baris utama dari penelitian keperibadian pemasaran. Studi yang khas tersebuut berusaha mendapatkan hubungan antara seperangkat variabel keperibadian dan bermacam perilaku konsumen seperti pembelian, pilihan media, inovasi, rasa takut dan pengaruh sosial, pilihan produk, kepemimpinan opini, pengambilan resiko, dan perubahan sikap.



MERAMALKAN PERILAKU PEMBELIAN

Meramalkan perilaku konsumen menjadi sasaran dari banyak penelitian keperibadian, setidaknya hingga belum lama ini. Literatur yang kaya mengenai keperibadian di dalam psikologi dan ilmu perilaku telah membujuk banyak peneliti untuk berteori bahwa karakteristik keperibadiaan harus meramalkan merek atau preferensi toko dan jenis lain kegiatan pembeli. Studi ini umumnya masuk ke dalam dua karakteristik: (1) kerentanan terhadap pengaruh sosial, dan (2) pilihan produk dan merek.
Walaupun ciri keperibadian didapatkan sebagai prediktor yang absah dari maksud atau perilaku, apakah ciri akan berguna sebagai sasaran pemangsaan pasar? Jawaban yang positif memerlukan diberlakukannya keadaan berikut ini :
  1. Orang dengan dimensi keperibadian yang umum harus homogen dalam hal faktor-faktor demografi seperti usia, pendapatan, atau lokasi sehingga mereka tersedia pada khalayak media yang kebanyakan berkenaan dengan karakteristik lazim dari jenis ini yang dapat diidentifikasi, maka tidak ada sarana praktis untuk menjangkau mereka sebagai pangsa pasar yang unik. 
  2. Pengukuran yang memisahkan variabel keperibadian harus diperhatikan memiliki keterandalan dan keabsahan yang akurat. Kesulitan dalam hal ini bersifat luas. 
  3. Perbedaan keperibadian harus mencerminkan variasi yang jelas di dalam kegiatan dan preferensi pembeli yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan secara bermakna melalui modifikasi di dalam bauran pemasaran. Dengan kata lain, orang dapat memperlihatkan profil keperibadian yang berbeda namum pada dasarnya tetap memilih atribut produk yang sama. 
  4. Kelompok pasar yang dipisahkan oleh pengukuran keperibadian harus berukuran mencakupi untuk dijangkau secara ekonomis. Pengetahuan bahwa setiap orang bervariasi pada skala keperibadian memang menarik, tetapi tidak praktis untuk perusahaan pemasaran yang umumnya harus bekerja dengan pangsa yang rekatif besar.

KEPERIBADIAN MEREK
Untuk penerapan pemasaran, pemakaian yang lebih efektif dari konsep keperibadian mungkin berupa deskripsi merek. Mereka menyingkirkan asumsi bahwa orang mempunyai pola (dorongan atau ciri) yang konsisten yang menjadi pedoman bagi mereka untuk semua merek atau situasi konsumsi. Agaknya, merek mempunyai respons konsisten yang dibangkitkan terhadap mereka, tidak didasarkan pada asumsi mengenai keperibadian konsumen yang berespons terhadap merek tersebut, walaupun respons seperti ini akan lebih kuat pada beberapa jenis konsumen atau keperibadian dibandingkan yang lain. Keperibadian merek adalah bagian dari keseluruhan citra merek bersangkutan, yang dimengerti barangkali oleh banyak pelanggan, tetapi lebih menarik (atau menjinjikan) bagi sebagian konsumen dibandingkan bagi yang lain.
Keperibadian merek mengacu pada tujuan komunikasi yang berkenaan dengan atribut yang melekat di dalam suatu produk dan juga profil persepsi yang diterima oleh consumen mengenai merek spesifik. Merek memliki tiga dimensi. Satu dimensi adalah atribut fisik (physical attribute, seperti warna, haga, bahan, dan seterusnya. Sebagai contoh, Tang adalah bubuk jeruk yang berharga 89 sen. Dimensi suatu merek . Lemon-fresh Pledge memoles perabot milik konsumen dan menangkal debu. Kedua jenis atribut ini dapat diverifikasi secara objektif. Dimensi ketiga dari merek adalah karakterisasi, keperibadian merek sebagaimana dirasakan oleh konsumen. Merek mungkin dicirikan sebagai modern atau ketinggalan model, atau riang atau eksotik, persis seperti ciri manusia.

RESPONS EMOSIONAL
Keperibadian merek atau produk dapat dimengerti lebih jauh dengan berfokus pada respons emosional yang dibangkitkan diantara konsumen. Respons seperti ini dapat dihubungkan secara erat dengan dorongan atau motif yang dibicarakan. Sewaktu konsumen membeli produk, mereka kerap menginginkan lebih dari sekedar atribut fungsional atau atribut nyata yang diberikan oleh produk bersangkutan. Mereka juga menginginkan pengalaman yang baik, respons emosional yang baik dari pemakaian produk. Ini dideskripsikan sebagai manfaat “hedonic” dari konsumsi. Walaupun bersifat subjektif dan tidak nyata, respons emosional juga membangkitkan reaksi fisiologis yang dapat diukur dengan metode penelitian fisiologis.
Rangkaian tes psikologi digunakan untuk mengerti respons emosional terhadap merek. Sebagaian dari tes ini merupakan ancangan psikologis standar, seperti kelompok fokus dan wawancara. Sebagain lebih inovatif. Biro iklan Foote, Cone dan Belding menggunakan teknik di mana konsumen diberi tumpukan foto dari wajah orang dan diminta untuk menyortir tumpukan foto tersebut kedalam jenis konsumen yang mungkin merupakan pemakai khas dari merek tertentu. Setiap wajah menggambarkan reaksi emosional yang berbeda terhadap suatu produk.
Kaegori emosional Mehrabian-Russell menggambarkan tiga dimensi. Konsepsi kesenangan (pleasure), kegairahan (arousal), dan dominansi (dominance) mendefinisikan emosi berkenan dengan dimensi yang berkesinambungan: ini disebut paradigm PAD. Daftar yang lebih ekstensif dikembangkan oleh Plutchik untuk mencakupi ketakutan, kemarahan, kesenangan, kesedihan, kejijikan, penerimaan, pengharapan, dan keheranan.

KEPERIBADIAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keperibadian dapat digunakan untuk menjelaskan tahap antara di dalam proses keputusan. Penelitian konsumen semakin mengakui bahwa prediksi dari tahap antara adalah lebih baik daripada berusaha menjelaskan hasil perilaku dengan keperibadian. Yang paling memberi harapan dari upaya-upaya ini adalah penelitian yang berfokus pada hubungan di antara variabel keperibadian dan pengelolahan informasi. Variabel keperibadian dari kebutuhan akan kognisi sudah diselidiki dan didapatkan berhubungan dengan bagaimana iklan dapat mempengaruhi pembentukan sikap terhadap produk konsumen. Kebutuhan akan kognisi atau need for cognition (Ncog) adalah ukuran dari kecenderungan individu untuk menikmati berpikir.
Pengambilan resiko adalah variabel lain yang dapat meningkatkan pengertian kita mengenai pengambilan keputusan konsumen. Resiko, seperti didefinisikan di dalam penelitian keperibadian, lebih dari sekedar ketidakpastian mengenai hasil. Resiko merupakan harapan pribadi bahwa suatu kerugian akan terjadi. Semakin besar kepastian seseorang akan kerugian tersebut, semakin orang itu menjadi pengambil risiko, suatu kondisi yang mungkin mempengaruhi sikap di dalam model multiatribut. Penelitian konsumen masa datang tampaknya menuju penekanan yang leboh besar pada pengertian persepsi dan respons konsumen dalam pengalaman konsumsi. Penelitian seperti ini berfokus pada variabel seperti kecenderungan pencarian kegairahan konsumen dan cara di mana mereka berinteraksi dengan personel penjualan, khususnya sebagai determinan dari situasi pembelian berdasarkan impuls dan produk/toko yang direncanakan. Ini tampaknya lebih efektif daripada upaya untuk menghubungkan pembelian dengan variabel yang lebih umum dan kuno dari keperibadian yang didasarkan pada asumsi ciri atau temperamen yang meresap.



NILAI PRIBADI


Individu mempunyai nilai yang didasarkan pada nilai inti dari masyarakat tempat mereka tinggal, tetapi dimodifikasi oleh nilai dari sekelompok lain di mana mereka menjadi anggotanya dan situasi kehidupan individual atau keperibadian. Di dalam latar organisasi, nilai sudah diakui sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang dari organisasi bersangkutan. Realitas bahwa nilai pribadi selalu memiliki tempat di dalam latar perusahaan sudah digabungkan sebagai daya tarik dalam iklan. Penelitian konsumen yang berhubungan dengan nilai sudah dipengaruhi oleh karya Milton Rokeach. Di dalam bukunya, The Nature of Human Values, Rokeach mendefinisikan nilai sebagai kepercayaan yang abadi bahwa modus perilaku tertentu atau keadaan akhir keberadaan lebih disukai secara pribadi atau secara sosial dibandingkan modus perilaku yang berlawanan atau terbalik atau keadaan akhir keberadaan. Dinyatakan sebagai alternatif, nilai relatif stabil, tetapi tidak sepenuhnya statis, seperti halnya kepercayaan (dengan komponen kognitif, afektif, dan perilaku) mengenai apa yang harus dikerjakan seseorang (tetapi tidak selalu dikerjakan), baik mengenai tujuan (keadaan akhir atau elemen terminal) dan cara berperilaku (komponen instrumental) untuk mencapai tujuan.   
Penelitian nilai dalam perilaku konsumen dapat digunakan untuk stabil pemangsaan pasar. Walaupun produk yang dipelajari paling sering adalah mobil, seperti dalam studi oleh Vinson, Scott, dan Lamont, pengaruh keluarga mungkin lebih penting di dalam pembelian dalam keterlibatan yang begitu tinggi dibandingkan dalam pembelian rutin atau pembelian dengan keterlibatan rendah seperti serealia atau deodorant. Penjenjangan (laddering) adalah teknik yang dikembangkan sekarang ini. Teknik ini berguna untuk mengerti atribut produk. Penjenjangan mengacu pada penyelidikan mendalam yang ditunjukan untuk menyingkapkan masa tingkat pada tingkat manfaat (atribut) dan tingkat nilai. Penjenjangan berusaha menyingkapkan hubungan antara atribut produk, hasil (konsukuensi) pribadi, dan nilai yang berfungsi untuk menyusun komponen jaringan kognitif di dalam bentuk konsumen.



GAYA HIDUP GLOBAL


Strategi pemasaran semakin dijalankan dengan baris global. Penelitian konsumen mengenai topik-topik yang sama pentingnya dengan gaya hidup, dengan demikian, memerlukan pemekiran mengenai bagaimana pangsa gaya hidup bervariasi antarnegara. Memperlihatkan temuan seperti ini untuk beberapa strategi global yang canggih, mereka pun semakin perlu menggunakan tipologi seperti ini untuk mengembangkan produk yang menghimbau pangsa pasar di banyak negera. Baik media cetak maupun elektronik menjangkau ke seluruh penjuru dunia karena orang berlangganan majalah dengan basis yang meliputi seluruh dunia dan mendengarkan televise satelit. Jadi, desain produk dan strategi komunikasi dapat dikembangkan untuk Achiever dari beberapa Negara untuk menjangkau pangsa pasar yang kaya dan semakin berkembang. Menjelang tahun 1992 di Eropa, pangsa makin didefisinikan berdasarkan gaya hidup di seluruh Eropa dan bukan ancangan spesifik masa lalu dari Negara bersangkuta. 

KONSEP GAYA HIDUP DAN PENGUKURAN
Gaya hidup di luar keperibadian. Gaya hidup adalah konsep yang lebih kontemporer, lebih komprehensif, dan lebih berguna daripada keperibadian. Karena alasan ini, perhatian yang besar harus dicurahkan pada upaya memahami konsepsi atau kata yang disebut gaya hidup, bagaimana gaya hidup diukur, dan bagaimana gaya hidup digunakan. Gaya hidup didefinisikan sebagai pola di mana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Gaya hidup adalah fungsi motivasi konsumen dan pembelajaran sebelumnya, kelas sosial, demografi, dan variabel lain. Gaya hidup adalah konsepsi ringkasan yang mencerinkan nilai konsumen.
  • Psikografi 
  • Pernyataan AIO 
  • Pemangsaan Pasar 






Sumber : 
James F. Engel, Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. (1994). Perilaku Konsumen Jilid 1. Jakarta : Penerbit Binarupa Aksara.
Gambar : google.co.id/ https://www.google.co.id/imghp?hl=id&tab=wi 

TUGAS 6. Sikap Motivasi dan Mawas Diri


SIKAP




Sikap (attitude), “Manner of placing or holding the body, and Way of feeling, thinking or behaving” (Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku).
Berikut ini adalah pengertian sikap dari beberapa para ahli antara lain :

  1. Menurut Thomas (1918) dan Znanieck (1974), sikap adalah kondisi mental yang kompleks yang melibatkan keyakinan dan perasaan, serta disposisi untuk bertindak dengan cara tertentu. Konsep sikap sebenarnya pertama kali diangkat ke dalam bahasan ilmu sosial pertama kali oleh Thomas, sosiolog yang banyak menelaah kehidupan dan perubahan sosial, yang menulis buku Polish Peasant in Europe and America: Monograph of an Immigrant Group yang merupakan hasil riset yang dilakukannya bersama Znanieck. Dalam buku tersebut, Thomas dan Znaniecki membahas informasi sosiologi dari kedua sudut individualistik dan subjektivistik. Menurut pandangan mereka dua hal yang harus diperhitungkan pada saat membahas kehidupan dan perubahan sosial adalah sikap individu dan budaya objektif (objective cultural). 
  2. Menurut Allport (1935), sikap adalah kondisi mental dan neural yang diperoleh dari pengalaman, yang mengarahkan dan secara dinamis mempengaruhi respon-respon individu terhadap semua objek dan situasi yang terkait. 

MOTIVASI



Kata motivasi berasal dari Bahasa Inggris adalah “Motivation”. Perkataan asalnya ialah “Motive” yang juga telah dipinjam oleh Bahasa Melayu atau Bahasa Malaysia kepada “Motif” yang artinya tujuan. Jadi, motivasi adalah sesuatu yang menggerakan atau mengarahkan tujuan seseorang dalam tindakan-tindakannya secara negatif atau positif untuk mencapai tujuannya. Selain itu, ada tiga elemen utama dalam motivasi antara lain : intensitas, arah, dan ketekunan.


Pengertian motivasi menurut beberapa ahli :
  1. Menurut Cropley (1985), Motivasi dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu”
. 
  2. Menurut Wlodkowski (1985) menjelaskan, motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme (teori belajar dan percaya bahwa semua perilaku yang diperoleh sebagai hasil dari pengkondisian).



Sikap Motivasi

  


MotivasiAda tiga komponen utama dalam motivasi yaitu:

  1. Kebutuhan
    Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan.
    Abraham maslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkatan yakni 1) kebutuhan fisiologis; 2) kebutuhan akan rasa aman; 3) kebutuhan sosial; 4) kebutuhan akan penghargaan diri; dan 5) kebutuhan aktualisasi. 
 
  2. Dorongan
    Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. 
  3. Tujuan
    Tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang individu. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku, dalam hal ini perilaku belajar. Kekuatan mental atau kekuatan motivasi belajar dapat diperkuat dan dikembangkan. Interaksi kekuatan mental dan pengaruh dari luar ditentukan oleh responden prakarsa pribadi pelaku.



Konsep DiriStaines (dalam Burns, 1993) mengatakan bahwa konsep diri memiliki peranan penting dalam terbentuknya pola kepribadian seseorang, karena konsep diri merupakan inti pola kepribadian; konsep ini mempengaruhi berbagai sifat dalam diri seseorang. Lebih lanjut dikatakan oleh Staines (dalam Ismail, 2001), konsep diri memiliki beberapa komponen utama, yaitu :
  • Diri yang dikognisikan atau diri yang dasar, yaitu pandangan yang digambarkan oleh inidvidu tentang diri sendiri; pemikiran atau persepsi individu mengenai kemampuan, status, dan peranan individu dalam berhubungan dengan dunia luar;b. Diri yang lain atau diri sosial, pandangan atau penilaian tentang diri sendiri yang didasarkan pada penilaian orang-orang yang dihormati atau lingkungan sekitar yang memiliki pengaruh besar terhadap diri individu yang diperoleh melaui interaksi sosial individu dengan orang lain; danc. Diri yang ideal, seperangkat interpretasi individu saat sedang mengungkapkan keinginan atau aspirasi yang bersifat pribadi, sebagaian besar berupa keinginan dan sebagian lagi merupakan keharusan-keharusan, atau yang disebut sebagai perangkat ambisi-ambisi yang mengarah pada suatu yaitu gambaran diri yang ideal dan dipahami oleh individu sebagai dirinya sendiri.






Hurlock (dalam Ismail, 2001), membagi komponen konsep diri menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:

  • Konsep diri yang sebenarnya; yaitu konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Konsep ini ditentukan oleh peran dan hubungan dengan orang lain berdasarkan penilaian dan reaksi dari orang lain sehingga individu akan memahami tentang dirinya, apakah dipandang baik atau buruk.
  • Konsep diri ideal; yaitu merupakan gambaran seseorang mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakan; gambaran pribadi tersebut diharapkan menjadi pribadi yang seseuai dengan diri individu meskipun terdapat kemungkinan tidak memiliki hubungan dengan realitas sama sekali.Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam proses terbentuknya konsep diri seseorang, evaluasi dan penilaian orang lain sangat mempengaruhi terbentuknya pandangan atau penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Di samping itu, dalam diri individu terdapat konsep diri yang ideal atau gambaran diri yang sesungguhnya didambakan oleh individu. Artinya, konsep diri yang ideal ini sangat berpengaruh dalam diri individu, karena bila reaksi lingkungan memiliki intensitas yang tinggi, maka akan semakin kuat pula konsep diri tersebut. Sebaliknya bila reaksi lingkungan menjadi lemah, maka akan semkin berkurang atau lemah konsep diri tersebut.




MAWAS DIRI


Mawas diri menurut kamus Besar Bahasa indonesia, edisi kedua, balai pustaka 1993, ialah melihat memeriksa dan mengoreksi diri sendiri secara jujur, instropeksi, kita harus mawas diri agar kita tidak membuat kesalahan yang sama.

Mawas diri menurut Marbangun Hardjowirogo ialah meninjau ke dalam, hati nurani kita guna mengetahui benar tidaknya suatu tindakan. Secara teknis psikiologis usaha tersebut dapat dinamakan juga instropeksi yang pada dasarnya ialah pencarian tanggung jawab ke hati nurani mengenai suatu perbuatan. orang jawa sering berbicara tentang mawas diri dan berusaha pula untuk mempraktikkannya guna mendapatkan jawaban atas persoalan yang di hadapinya yakni apakah suatu perbuatan yang dilakukannya, suatu tindakan yang di ambilnya secara moral dapat di benarkan dan dapat di pertanggungjawabkan, adapun jawaban yang di cari adalah menelaah hati nurani.





Sumber : http://yogifajarpebrian13.wordpress.com/2011/12/22/sikap-motivasi-dan-mawas-diri/
Gambar : google.co.id/ https://www.google.co.id/imghp?hl=id&tab=wi

TUGAS 5. Sumber Daya Konsumen dan Pengetahuan


SUMBER DAYA KONSUMEN

Konsumen memiliki tiga sumber daya utama yang mereka gunakan dalam proses pertukaran dan melalui proses ini pemasar memberikan barang dan jasa. Terdapat 3 (tiga) sumber daya konsumen di antaranya sebagai berikut : 
      ·         Sumber Daya Ekonomi. 
·         Sumber Daya Temporal.  
·         Sumber Daya Kognitif.
Ini berarti bahwa pemasar bersaing untuk mendapatkan uang, waktu, dan perhatian konsumen. Sumber daya lain, seperti energi, mungkin diperlukan untuk berbelanja dan konsumsi, tetapi uang, waktu, dan perhatian adalah yang utama. Bukan hanya jumlah waktu dan sumber daya ekonomi yang menentukan perilaku konsumen. Persepsi konsumen mengenai sumber daya yang tersedia, atau apa yang akan tersedia pada masa datang, juga penting dalam keputusan pembelanjaan dan juga mempengaruhi ketersedian untuk menggunakan uang atau waktu produk. Jadi, ukuran kepercayaan konsumen mungkin berguna dalam meramalkan penjualan masa dating berdasarkan kategori produk.

SUMBER DAYA EKONOMI
                                    
Keputusan konsumen sehubungan dengan produk dan merek sangat dipengaruhi oleh jumlah sumber daya ekonomi yang mereka punyai atau mungkin mereka punyai pada masa dating. Untuk menjadi konsumen diperlukan uang. Kartu kredit juga memadai. Di dalam era yang lebih awal, barter-pertukaran barang dengan barang-lazim dilakukan. Barter masih penting di dalam masyarakat yang kurang maju dan hingga batas tertentu di dalam ekonomi bawah tanah dari masyarakat maju. Ada ‘’ekonomi informal’’ yang besar di mana orang membarter atau membeli barang dan jasa dengan cara yang kerap lolos dari pembuatan catatan dan mungkin pajak. “pemakai berat” ekonomi informal adalah orang yang kaya, berpendidikan tinggi, dan termasuk muda.
Sumber daya ekonomi-seperti pendapatan atau kekayaan –adalah variable pertama yang harus dianalisis di dalam perilaku konsumen, dengan studi yang dirunut kembali hingga tahun 1672. Studi pertama, dengan basis statistik yang layak diterbitkan oelh Ernest Engel’s Laws of Consumption” (Kaidah Engel mengenai Konsumsi). Kaidah tersebut mengandung empat proposisi mengenai hubungan antara pendapatan keluarga dan proporsi yang dibelanjakan untuk kategori seperti makanan, pakaian, pondokan, dan “lain-lain” (pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan sebagainya).

Sumber Daya Ekonomi yang lain diluar pendapatan juga mempengaruhi perilaku konsumen. Yang paling penting adalah kekayaan (nilai bersih) dan kredit. Kekayaan, yang diukur menurut asset atau nilai bersih, berkorelasi dengan pendapatan. Variasi primer adalah konsumen tua cenderung memiliki proporsi kekayaan yang lebih besar dibandingkan konsumen yang lebih muda. Keluarga kaya menghabiskan uang mereka untuk pelayanan, perjalanan, minat, dan investasi lebih banyak daripada yang dihabiskan oleh tetangga mereka untuk perlengkapan rumah, peralatan, alat hiburan, dan produk serupa tidak terlalu tinggi karena keluarga kaya biasanya berada dalam tahap yang belakangan dari siklus kehidupan dan tidak berkepentingan untuk melengkapi rumah baru atas membuat pembelian tambahan untuk peralatan besar.

Kredit memperluas sumber pendapatan, setidaknya untuk suatu periode waktu . sebenarnya karena biaya kredit harus dikurangi dari ketersediaan sumberdaya total milik konsumen, kredit mengurangi kemampuan membeli barang dan jasa dalam jangka pangjang. Meskipun begitu, orang Amerika semakin bersedia menggunakan kredit untuk perluasan sementara dari sumber daya ekonomi mereka. Kepala rumah tangga yang lebih muda lebih mungkin mendukung piminjaman daripada rumah tangga yang lebih tua. Orang Amerika paling bersedia meminjam untuk mobil, tagihan pengobatan, atau alasan pendidikan. Rumah tangga yang lebih muda dan mereka dengan pendapatan yang lebih tinggi lebih bersedia meminjam, apapun alasannya. 

SUMBER DAYA TEMPORAL
Waktu menjadi variabel yang semakin penting dalam memahami perilaku konsumen karena kemiskinan waktu yang semakin banyak dialami orang Amerika. Jam yang dihabiskan di tempat kerja setiap minggu (termasuk waktu pulang pergi, pekerjaan rumah tangga, dan pekerjaan sekolah) meningkat dari 40,6 jam pada tahun 1973 menjadi 47,3 pada tahun 1984. Pada waktu yang sama, rata-rata jumlah jam yang tersedia untuk waktu senggang tuun dari 26,2 jam menjadi 18,1 jam perminggu.
                                    

Salah satu variabel yang paling individual dari perilaku manusia berhubungan dengan bagaimana orang menggunakan anggaran waktu mereka. Kebanyakan dihabiskan untuk bekerja, tidur, dan kegiatan wajib lain. Namun, suatu bagian dihabiskan untuk kegiatan yang sangat pribadi yang disebut waktu senggang (leisure), yang mencerminkan baik keperibadian maupun preferensi gaya hidup.

Sumber daya konsumen terdiri atas dua kendala anggaran: anggaran uang dan anggaran waktu. Sekarang kita ingin melihat anggaran waktu yang harus digunakan oleh konsumen untuk mencerminkan preferensi gaya hidup pribadi mereka. Walaupun pendapatan yang meningkat memungkinkan konsumen membeli segalanya lebih banyak, pendapatan tersebut tidak mungkin mengerjakan segalanya lebih hal, sebagaimana berlawanan dengan membeli banyak hal, sebagaimana berlawanan dengan membeli banyak hal, memerlukan sumber daya tambahan: waktu. Sementara anggaran uang tidak mempunyai keterbatasan perluasan teoritis, waktu memiliki kendala pokok.

Karena pendapatan yang leluasa digunakan terus meningkat di dalam masyarakat, pasar untuk barang atau jasa yang berhubungan dengan waktu menjadi lebih penting. Kelangkaan menciptakan nilai. Untuk konsumen yang kaya, perhatian utama menjadi pembeli lebih banyak waktu ketimbang lebih produk. Nilai waktu meningkat ketika anggaran uang meingkat, sehingga meningkatkan kemungkjinan bahwa pemasar menaikkan nilai produk (dan harga yang sesuai) lebih besar daripada biaya tambahan karena mengerjakannya.

Secara historis, anggaran waktu konsumen secara naïf dianggap memiliki komponen : kerja dan senggang.anggaran waktu konsumen dibagi ke dalam tiga blok: “waktu yang dibayar”, “waktu wajib”, dan “waktu leluasa”. Lane dan Lindquist menggunakan system klasifikasi yang sama termasuk waktu yang menghasilkan pendapatan, waktu terikat (wajib dan nonwajib), dan waktu yang tidak terikat (yang direncanakan dan tidak direncanakan). Blok waktu leluasa atas waktu tak terikatlah yang dapat benar-benar dianggap sebagai waktu senggang. Voss menyimpulkan: “waktu senggang adalah periode waktu yang diacu sebagai waktu yang dapat digunakan secara leluasa. Itu adalah waktu ketika individu ttidak merasakan masalah ekonomi, hukum, moral, atau desekan sosial atau kewajiban, tidak pula kebutuhan fisiologis pilihan bagaimana memanfaatkan waktu itu semata-mata merupakan milik individu bersangkutan.
Komplikasi tambahan dalam mendefinisikan kesenggangan terjadi ketika individu dibayar untuk kegiatan yang mungkin mereka pilih sebagai kegiatan leluasa. Seniman, professor, dan atlet professional mungkin merupakan contoh individu yang beruntung dibayar untuk kegiatan yang mereka pilih sebagai kegiatan waktu senggang mereka. 

SUMBER DAYA KOGNITIF
Sumber daya kognitif menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan informasi. Kapasitas adalah sumber daya yang terbatas. Dapat mengelola hanya sejumlah tertentu informasi pada satu waktu. Ukuran kapasitas kerap digambarkan istilah keratan (chunk), yang mewakili suatu unit. Alokasi kapasitas kognitif dikenal sebagai perhatian (attention). Perhatian terdiri dari dua dimensi: arahan (direction)intensitas. Arahan menggambarkan fokus perhatian. Karena konsumen tidak dapat mengolah semua stimulus internal dan eksternal yang tersedia pada saat tertentu, mereka harus selektif dalam cara mereka mengalokasikan sumber daya yang terbatas ini. Beberapa stimulus akan mendapat perhatian, yang lain akan diabaikan.

Intensitas, sebaliknya, mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Konsumen akan sering mengalokasikan hanya kapasitas yang diperlukan untuk mengidentifikasi stimulus sebelum mengarahkan kembali perhatian mereka ke tempat lain. Pada kesemapatan lain, konsumen mungkin menaruh cukup perhatian untuk mengerti inti dasar dari iklan bersangkutan. Konsumen kadang mungkin member konsentrasi penuh kepada iklan tersebut dan menyelidiki secara cermat pesanannya, seperti konsumen di dalam pasar mobil baru yang membaca iklan mobil.. kenyataan bahwa kapasitas merupakan sumber daya yang terbatas membawa sejumlah implikasi penting sehubungan dengan bagaimana konsumen mengolah informasi dan membuat pilihan produk. 


PENGETAHUAN

ISI PENGETAHUAN 
Psikolog kognitif mengemumakan bahwa ada dua jenis pengetahuan dasar : deklaratif dan prosedural.
Pengatahuan deklaratif (declarative knowledge) melibatkan fakta subjektif yang sudah diketahui, sementara pengetahuan prosedural (procedural knowledge) mengacu pada pengertian bagaimana fakta ini dapat digunakan. Fakta ini bersifat subjektif dalam pengertian bahwa fakta tersebut tidak perlu sesuai dengan realitas objektif. 
Pengetahuan deklrataif dibagai menjadi dua kategori : episodik dan semantik. Pengetahuan episodic (episodic knowledge) melibatkan pengetahuan yang dibatasi dengan lintasan waktu. Pengetahuan ini digunakan untuk menjawab pertanyaan, “kapan anda terakhir kali membeli sejumlah pakaian?” sebaliknya, pengetahuan sematik (semantic knowledge) mengandung pengetahuan yang digeneralisasikan yang memberikan arti bagi dunia seseorang. Ini adalah pengetahuan yang akan anda gunakan dalam mendeskripsikan sebuah barang.
Pengetahuan konsumen di bagi dalam tiga dibidang umum :
      1.      Pengetahuan Produk (product knowledge) 
2.      Pengetahuan Pembelian (purchase knowledge) 
3.      Pengetahuan Pemakaian (usage knowledge)

PENGETAHUAN PRODUK
Pengetahuan produk mencakupi : 
      1.      Kesadaran akan kategori dan merek produk di dalam kategori produk. 
2.      Terminologi produk.  
3.      Atribut atau ciri produk.  
4.      Kepercayaan tentang kategori produk secara umum dan mengenai merek spesifik.
Secara umum, pemasar paling berminat atas pengetahuan konsumen mengenai merek mereka dan sajian yang kompetitif. Informasi ini diperoleh melalui analisis kesadaran konsumen dan citra dari merk yang tersedia. 
      1.      Analisis Kesadaran. 
2.      Analisis Citra.  
3.      Kesalahan Persepsi terhadap Produk.  
4.      Penegtahuan Harga

PENGETAHUAN PEMBELIAN
Pengetahuan pembelian (purchase knowledge) mencakupi bemacam potongan informasi yang dimiliki konsumen yang berhubungan erat dengan pemerolehan produk. Dimensi dasar dari pengetahuan pembelian melibatkan informasi berkenaan dengan keputusan tentang di mana produk tersebut harus dibeli dan kapan pembelian harus terjadi.
                                           

      1.      Di mana Membeli. 
2.      Kapan Membeli.

PENGETAHUAN PEMAKAIAN
Pengetahuan pemakaian (usage knowledge) menggambarkan kategori ketiga dari pengatahuan konsumen. Pengetahuan seperti ini mencakupi inormasi yang tersedia di dalam ingatan bagaimana suatu produk dapat digunakan dan apa yang diperlukan agar benar-benar menggunakan produk tersebut. Kecukupan pengetahuan pemakaian konsumen penting karena beberapa alasan pertama, konsumen tentu saja lebih kecil kemungkinannya membeli suatu produk bila mereka tidak memiliki informasi yang cukup mengenai bagaimana menggunakan produk tersebut. Upaya pemasaran yang dirancang untuk mendidik konsumen tentang bagaimana menggunakan produk pun dibutuhkan. Iklan yang muncul adalah salah satu contoh dari peningkatkan pengetahuan pemakai dengan member konsumen informasi langkah demi langkah mengenai bagaimana produk tersebut dapat digunakan.

Penghalang serupa bagi pembelian terjadi bila konsumen memiliki informasi yang tidak lengkap mengenai cara-cara yang berbeda atau situasi di mana suatu produk dapat digunakan. Penemuan kemampuan aspirin untuk mengurangi resiko serangan jantung mendorng bayer untuk menginformasikan konsumen mengenai pemakaian baru. Jangan samapai prouduk yang digunakan secara salah mungkin tidak bekerja dengan benar sehingga menyebabkan pelanggan merasa tidak puas. Yang lebih buruk lagi, kesalahan dalam pemakaian dapata menyebabkan cedera tubuh, seperti kecelakaan kerap terjadi sehubungan dengan gergaji listrik yang dipegang dengan tangan. Upaya seperti ini sangat lazim, karena pemasar kerap mengidentifikasi dan mempromosikan pemakai produk baru untuk meningkatkan permintaan , khususnya dalam hal produk yang sudah matang. 

                                                 

Contoh Pengetahuan Pemakaian

PENGUKURAN PENGETAHUAN 
Pengukuran pengatahuan objektif (objective knowledge) adalah pengukuran yang menyadap apa yang benar-benar sudah disimpan oleh konsumen di dalam ingatan. Ukuran pengetahuan objektif, yang berfokus pada potongan informasi khusus yang mungkin diketahui konsumen. Dan pilihan akhir untuk menilai pengetahuan adalah dengan menggunakan ukuran pengetahuan subjektif (subjective knowledge). Pengetahuan ini sireflesikan oleh pengukuran yang menyadap persepsi konsumen mengenai banyaknya pengetahuan mereka sendiri. Pada dasarnya, konsumen diminta untuk menilai diri mereka sendiri berkenaan dengan pengetahuan produk atau keakraban mereka. Ukuran pengetahuan subjektif berrpusat di sekitar kesan konsumen mengenai pengetahuan total dan keakraban mereka.  
Akhirnya, pertimbangan diberikan pada metode alternatif untuk pengukuran pengetahuan. Pengalaman pembelian atau pemakaian, walaupun tentu saja berhubungan dengan pengetahuan, tidak harus memberikan indikasi yang akurat mengenai beberapa persisnya informasi yang dimiliki konsumen. 

Sumber :  
James F. Engel, Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. (1994). Perilaku Konsumen Jilid 1. Jakarta : Penerbit Binarupa Aksara. 


Minggu, 10 November 2013

Quote: cinta segi empat

Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata, “Aku mencintaimu”, aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

“Aku mencintaimu,” katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.